Diagnosis Belajar
Oleh Suyitman, S.Pd.I.
Banyaknya siswa yang tidak lulus UN SMA dan SMP
sederajat menandakan ada permasalahan dalam pembelajaran yang baru diketahui di
penghujung masa belajar. Sayang sekali, siswa yang tidak lulus dianggap sebagai
“noda” bagi nama baik sekolah sehingga dipandang sebelah mata. Padahal sistem pembelajaran seharusnya memberikan kesempatan kepada setiap
siswa untuk berkembang secara maksimal sesuai dengan potensi yang ada pada
dirinya. Masing-masing siswa memiliki perbedaan kemampuan, kecerdasan, bakat,
minat, dan latar belakang yang harus dikembangka sehingga mereka perlu
dibelajarkan sesuai dengan kondisi dirinya. Siswa yang tidak lulus merupakan
siswa yang mengalami kesulitan dalam belajar.
Kesulitan belajar dapat diartikan suatu kondisi dalam suatu proses
belajar yang ditandai adanya hambatan-hambatan tertentu untuk menggapai hasil
belajar. Kesulitan belajar merupakan problem yang nyaris dialami oleh semua
siswa. Tetapi siswa yang tidak lulus merupakan siswa yang tidak dapat mengatasi
kesulitan yang mereka alami. Oleh karena itu perlu adanya diagnosis belajar
untuk mendeteksi penyakit atau kesulitan belajar yang diderita siswa sejak
dini. Diagnosis belajar adalah segala usaha yang dilakukan untuk mengetahui jenis
dan sifat kesulitan belajar, faktor-faktor penyebab kesulitan belajar, serta menentukan
cara mengatasi kesulitan belajar berdasarkan data dan informasi tentang siswa.
Adapun langkah-langkah diagnosa belajar menurut C. Ross dan Julian
Stanley antara lain, yaitu : pertama, identifikasi masalah dan faktor
penyebabnya. Pada langkah ini
guru melakukan observasi terhadap siswa dan menandai beberapa siswa yang
mengalami kesulitan belajar. Nilai
ulangan yang tercantum dalam daftar nilai dan buku raport menjadi sumber data primer. Selain itu, guru juga perlu melihat
kesalahan yang dibuat siswa pada saat ulangan.
Untuk mengetahui faktor penyebab timbulnya
masalah, maka observasi juga dilakukan dalam proses belajar mengajar dengan mengamati
tingkah laku siswa ketika mengerjakan tugas-tugas, mengetahui kebiasaan dan
cara belajar siswa baik di rumah dan di sekolah. Agar data yang diperoleh lebih
komprehensif, guru dapat melakukan wawancara khusus untuk menggali informasi
yang mendalam tentang siswa yang bermasalah.
Kedua, prognosis yaitu suatu langkah untuk memperkirakan langkah
mengatasi kesulitan belajar, baik yang bersifat mencegah (preventif) maupun
penyembuhan (kuratif). Proses mengambil keputusan pada tahap ini terlebih
dahulu dilaksanakan konferensi kasus, dengan melibatkan pihak-pihak yang
kompeten untuk bekerja sama menangani kasus-kasus yang dihadapi. Pada proses
ini juga dibahas apakah penanganan siswa yang mengalami kesulitan belajar
memerlukan bantuan khusus atau masih dapat ditangani oleh pihak sekolah. Bantuan
khusus dapat diperoleh dari psikolog untuk mengetahui permasalahan psikologis
siswa.
Ketiga, terapi penyembuhan kesulitan belajar yaitu
kegiatan penanganan siswa yang mengalami kesulitan belajar. Biasanya, terapi
hanya dilakukan dengan memberikan pengajaran remedial. Padahal untuk
menyelesaikan kesulitan belajar, siswa memerlukan bimbingan khusus dan
pendampingan oleh orang lain. Pemberian bimbingan diperlukan bimbingan yang
intensif dan berkelanjutan agar siswa dapat mengembangkan diri secara optimal sehingga
tidak lagi menderita kesulitan belajar.


No comments:
Post a Comment