Pendidikan Islam Inklusif
Oleh: Salim Wazdy, S.Ag., M.Pd.

Istilah inklusif dapat dikaitkan dengan persamaan, keadilan, dan hak individual dalam pembagian sumber-sumber seperti politik, pendidikan, sosial, dan ekonomi. Inklusif memiliki ukuran universal. Menurut Reid, masing-masing dari aspek-aspek tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan satu sama lain. Reid ingin menyatakan bahwa istilah inklusif berkaitan dengan banyak aspek hidup manusia yang didasarkan atas prinsip persamaan, keadilan, dan hak individu.
Istilah inklusif dalam ranah pendidikan dikaitkan dengan model pembelajaran yang tidak membeda-bedakan individu berdasarkan kemampuan dan atau kelainan yang dimiliki individu juga tanpa membedakan suku, ras, agama dan atau aliran kepercayaan serta kultur, semua diperlakukan sama dan adil tanpa diskriminasi. Perbedaan bukan lantas melahirkan diskriminasi dalam pendidikan, namun pendidikan harus tanggap dalam menghadapi perbedaan.
Problematikanya pendidikan agama yang selama ini berkembanng merupakan warisan era klasik-skolastik yang terlalu menekankan pada doktrin “keselamatan” yang didasarkan pada kebaikan antara diri “seorang individu” dengan “Tuhan”nya, dan kurang begitu memberikan tekanan yang baik antara “individu” dengan “individu-individu sesamanya”. Perbedaan asumsi dasar dan filosofi cara memperoleh keselamatan antar kedua model tersebut berimplikasi besar pada muatan kurikulum pendidikan agama di sekolah/madrasah. Pendidikan agama yang semata-mata menekankan pada keselamatan individu menjadikan peserta didik kurang peka terhadap nasib, penderitaan, dan kesulitan yang dialami oleh sesama, yang kebetulan memeluk agama lain. Hal ini bisa terjadi karena adanya keyakinan yang tertanam kuat bahwa orang atau kelompok yang berbeda atau tidak seagama adalah “lawan” secara akidah.
Konteks diatas, penanaman sikap empati, simpati, solidaritas, keadilan, dan toleransi terhadap sesama walaupun berbeda atau tidak seagama besar kemungkinan akan menghadapi hambatan yang luar biasa. Hambatan tersebut datang dari diri sendiri maupun dari teman sejawat, teman sekelompok, atau teman seorganisasi yang memeluk agama dan kepercayaan yang sama. Pendikan Islam inklusif diharapkan dapat meminimalisir problem tersebut. Pendidikan Islam inklusif adalah pendidikan Islam yang memberikan wajah ramah terhadap masyarakat yakni pendidikan yang tidak membeda-bedakan individu berdasarkan kemampuan dan atau kelainan yang dimiliki individu juga tanpa membedakan suku, ras, agama dan atau aliran kepercayaan serta kultur, semua diperlakukan sama dan adil tanpa diskriminasi.
Konteks keindonesiaan yang plural dan multikultural, sejak dari awal pembentukan karakter bangsa harus diarahkan pada kepribadian yang inklusif. Bukan semata-mata bertenggang rasa dalam kerangka co-existence tetapi lebih jauh lagi harus berpartisipasi dalam menciptakan relasi sosial yang pro-existence dalam kemajemukan. Sikap tersebut menghajatkan kerjasama antar agama dalam menghadapi masalah-masalah aktual kehidupan seperti kemiskinan, kekerasan dan konflik horisontal, korupsi dan lain sebagainya dalam kerangka nilai-nilai fundamental dan universal antar agama.
Amin Abdullah menjelaskan bahwa selama ini pelajaran agama lebih menitik beratkan pada pendekatan normatif yang berdimensi ‘salah dan benar’ semata-mata bahkan pada dimensi eksoteris yang bersifat historis dan sosiologis sehingga menimbulkan ketegangan, baik secara internal maupun hubungan antar agama. Pendekatan semacam ini bahkan masih dominan digunakan sampai tingkat perguruan tinggi yang seharusnya lebih mengedepankan pendekatan historis dan sosial empiris-kritis sehingga agama dapat memberikan perangkat problem solving dan bukan justru menjadi part of the problem dalam konteks kemajemukan dan keberagaman di Indonesia.
Dimensi normatif seharusnya dapat memberikan fondasi spiritualitas yang dinamis dalam menjunjung nilai-nilai universal kemanusiaan seperti keberagaman, toleransi dan penghargaan, persamaan dan keseteraan, bukan semata-mata pada sesama pemeluk agama tetapi bagi seluruh umat manusia dan alam semesta (rahmatan lil ‘alamin). Sementara itu dimensi historis dapat memberikan lesson learns, baik suatu fenomena yang konstruktif maupun aspek destruktif yang pernah dilakukan oleh para pendahulu dalam konteks kesejarahannya. Sehingga dapat diambil hikmah bagi kemaslahatan kemanusiaan di masa berikutnya. Dimensi sosial-empiris dapat memberikan kesadaran kontekstual dengan mengacu pada pemecahan masalah aktual dan komprehensif .
Pada aspek ini, Amin menambahkan bahwa klaim kebenaran (truth claim) yang bersifat normatif yang mengedepankan sentimen emosional akan menimbulkan dogmatisme dan fanatisme. Di sinilah dimensi kesejarahan dan sosial menjadi sangat penting perannya dalam mengimbangi dimensi normatif sehingga dapat membentuk komitmen dan sentimen yang sehat dan inklusif yang dituntut oleh agama dan menghindari fanatisme sempit eksklusif yang dicegah oleh agama. Idealnya agama harus diajar secara multi-approaches dan bersifat contested dengan sebanyak mungkin memaparkan berbagai dimensi. Pendekatan yang bersifat normatif-historis dan sosiologis akan dapat menyemai suatu kesadaran kritis dan spiritualitas yang dinamis dalam menghadapi persoalan sosial yang semakin kompleks seiring dengan modernisasi dan globalisasi yang tengah berlangsung. Dengan demikian agama menyediakan alternatif-alternatif pemecahan yang berpijak pada nilai-nilai fundamental universal (sebagai antitesis terhadap nilai-nilai furu’iyah partikular) dan berorientasi pada relevansi pemecahan yang kontekstual dan aktual seperti pemberantasan secara bentuk eksploitasi, penindasan, korupsi dan praktek-praktek dekaden lainnya.
Belajar dari pendidikan Islam dalam konteks keindonesiaan, bahwa secara preskriptif transmisi Islam yang dipelopori oleh Walisongo merupakan contoh kongkrit wajah pendidikan Islam yang inklusif-multikultural, di mana penetrasi Islam ke dalam budaya Jawa ketika itu terjadi secara damai (penetration facifique). Suatu model pendidikan Islam yang tidak mengusik tradisi dan kebiasaan lokal, serta mudah dicerna oleh orang awam karena pendekatan Walisongo yang kongkrit-realis, tidak “njelimet” dan menyatu dengan kehidupan masyarakat. Usaha-usaha ini dalam konsep modern sering diterjemahkan sebagai model “model of development from within”. Model ini sekali lagi menunjukkan keunikan pandangan inklusif-multikultural Sufi Jawa yang mampu mengakomodir elemen-elemen budaya lokal dan asing, akan tetapi dalam waktu yang sama tetap berdiri tegar di atas prinsip-prinsip Islam .
Jika kita meninjau kembali prospek hubungan antara masyarakat yang berbeda agama di Indonesia, yang tampak ke permukaan adalah adanya suatu sikap toleransi yang masih dibungkus oleh semangat dogmatisme agama. Hal ini tidak hanya menyangkut sebagian penganut agama Islam yang moderat tetapi juga golongan “santri-muslim”. Jadi meskipun permasalahan penggunaan hukum syari’ah terhadap orang Islam tidak pernah akan hilang, satu hal yang tetap dipertahankan dalam orientasi politik di Indonesia adalah kesiapan orang-orang Islam dari semua golongan untuk menerima non-Muslim sebagai anggota masyarakat bersama.
Maka dari itu, salah satu upaya untuk menciptakan hubungan yang harmonis antara penganut beragama, adalah melalui pendidikan yang inklusif-multikultural, yakni kegiatan edukasi dalam rangka menumbuhkembangkan kearifan pemahaman, kesadaran sikap dan perilaku (mode of action) peserta didik terhadap keragaman agama, budaya, dan masyarakat. Tentu saja pendidikan inklusif-multikultural di sini tidak sekedar membutuhkan “pendidikan agama”, melainkan juga “pendidikan religuisitas”. Oleh Mahmud Arif, pendidikan religuisitas mengandung arti pendidikan yang tidak sebatas mengenalkan peserta didik ajaran agama yang dianutnya, melainkan juga mengajarkan penghayatan visi kemanusiaan ajaran agama tersebut (teaching about religion and teaching about being religious) .
Selain itu penting untuk memasukkan suatu perspektif baru dalam pendidikan Islam, yaitu pendekatan komplementer yang secara serius memberikan prioritas pada perspektif-perspektif para penganut agama (insider). Pendekatan insider pada intinya menyertakan suatu empati yang ketat, yang berusaha menjadikan apa yang dipahami dan dialami oleh para penganut suatu agama dapat dipahami oleh orang luar, dan dengan demikian menghasilkan pemahaman empatis yang netral dan tidak menilai (dengan menangguhkan imajinasi tidak percaya), terpisah dari reaksi-reaksi dan penilaian-penilaian subyektif kita sendiri. Berpatokan pada hal tersebut di atas, dalam praktiknya pendidikan inklusif-multikultural yang membawa misi pesan perdamaian, tidak diberikan dalam bentuk indoktrinasi, tetapi dalam konteks inkuiri. Peserta didik dan guru berinkuiri bersama untuk memahami hakekat masalah yang dihadapi dan menemukan kemungkinan pemecahannya. Pada saat yang sama perlu ditanamkan pada siswa tentang nilai-nilai dasar yang menjadi core values pendidikan Islam yang inklusif-multikultural yakni integritas, kerendahan hati, kesetiaan, keberanian bertindak benar, keadilan, kesabaran, kerajinan, kesederhanaan, kesopanan, dan ketaatasasan (konsistensi). Wallahu ‘alam.

No comments:

Post a Comment

PRESTASI AKADEMIK MTs NEGERI KEBUMEN 1 TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014



Tahun
Kejuaraan
Prestasi
2009
Debat IPS Nasional
IV
2009
LCC Matematika Jateng
IV
2009
Olimpiade Biologi Provinsi
Wk Kab.
2009
Lomba CT Matematika Kabupaten
II
2009
Lomba CT Fisika Kabupaten
II
2010
Pidato Bahasa Inggris SMKN 1 Kebumen
III
2011
Olimpiade Matematika K3M MTs Kab. Kebumen
I
2011
Pidato Bahasa Inggris Kemnas kab Kebumen
II
2011
Pidato Bahasa Indonesia Kemnas Kab. Kebumen
II
2011
Pidato Bahasa Inggris Tk SLTP/MTs Se Kab. Kebumen
III
2012
Olimpiade Matematika K3M MTs Kab. Kebumen
I
2012
Olimpiade Matematika K3M MTs Kab. Kebumen
II
2012
Olimpiade Fisika K3M MTs Kab. Kebumen
I
2012
Olimpiade Fisika K3M MTs Kab. Kebumen
II
2012
Olimpiade Fisika K3M MTs Kab. Kebumen
III
2012
Olimpiade Biologi K3M MTs Kab. Kebumen
I
2012
Olimpiade Biologi K3M MTs Kab. Kebumen
II
2012
Olimpiade Biologi K3M MTs Kab. Kebumen
III
2012
Lomba Mapel Matematika SMP/MTs se-Kab. Kebumen
III
2012
Lomba Mapel Bahasa Inggris SMP/MTs se-Kab. Kebumen
II
2012
Lomba Mapel Bahasa Inggris SMP/MTs se-Kab. Kebumen
III
2012
Lomba Pemanfaatan ICT SMP/MTs se Kab. Kebumen
III
2012
OSN Matematika SMP/MTs tingkat Kab. Kebumen
Wakil Kab. Ke Provinsi
2012
OSN Fisika SMP/MTs tingkat Kab. Kebumen
Wakil Kab. Ke Provinsi
2012
OSN Biologi SMP/MTs tingkat Kab. Kebumen
Wakil Kab. Ke Provinsi
2012
Kompetisi Sains Madrasah Bidang Matematika MTs tingkat Provinsi
II
2012
Kompetisi Sains Madrasah Bidang Biologi MTs tingkat Provinsi
I
2012
Kompetisi Sains Madrasah Bidang Fisika MTs tingkat Provinsi
I
2012
Kompetisi Sains Madrasah Bidang Biologi MTs tingkat Nasional
Medali Emas
2012
Kompetisi Sains Madrasah Bidang Fisika MTs tingkat Nasional
Medali Emas
2012
Story Telling STIE Putrabangsa Kebumen
I
2012
Lomba Pidato Bahasa Indonesia MAN 1 Kebumen
I
2013
Olimpiade Matematika K3M MTs Kab. Kebumen
I
2013
Olimpiade Matematika K3M MTs Kab. Kebumen
II
2013
Olimpiade Matematika K3M MTs Kab. Kebumen
II
2013
Olimpiade Fisika K3M MTs Kab. Kebumen
I
2013
Olimpiade Fisika K3M MTs Kab. Kebumen
II
2013
Olimpiade Biologi K3M MTs Kab. Kebumen
I
2013
Olimpiade Biologi K3M MTs Kab. Kebumen
III
2013
Pidato Bahasa Inggris SMKN 1 Kebumen
I
2013
Lomba TIK SMKN 1 Kebumen
I
2013
Olimpiade Matematika MAN Kebumen 2
I
2013
Olimpiade Matematika MAN Kebumen 2
II
2013
Olimpiade IPA MAN Kebumen 2
II
2013
Olimpiade IPA MAN Kebumen 2
IV
2013
Olimpiade Bahasa Inggris MAN Kebumen 2
II
2013
Olimpiade Bahasa Inggris MAN Kebumen 2
III
2013
Pidato Bahasa Inggris SMAN Pejagoan
I
2013
Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Kabupaten Mapel BIOLOGI
I
2013
Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Kabupaten Mapel FISIKA
I
2013
Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Kabupaten Mapel MATEMATIKA
I
2013
Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Provinsi Mapel FISIKA
I
2013
Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Tingkat Provinsi Mapel MATEMATIKA
III
2013
Lomba Storyy Telling SMAN 1 Kebumen
I
2013
Lomba Sesorah Bahasa Jawa SMAN 1 Kebumen
III

PRESTASI NON AKADEMIK MTs NEGERI KEBUMEN 1 TAHUN PELAJARAN 2013-2014



Prestasi Non Akademik
Tahun
Kejuaraan
Prestasi
2009
Lomba baca Puisi Kabupaten
Hrpn II
2009
Tilawah Putra Kecamatan
I
2009
Tilawah Putri Kecamatan
I
2009
Tartil Qur’an Putri Kecamatan
I
2009
Tilawah Putra Kabupaten
I
2009
Tilawah Putri Kabupaten
II
2009
Tilawah Putra Prov
-
2009
Lomba Menulis Lovel Islami Tingkat Nasional
III
2010
Tilawah Tk. Kab di SMKN 1 Gombong
III
2010
Tilawah Tk. Kab di SMKN 1 Gombong
I
2010
Lomba SKJ 2008 Tk. Kab. Kebumen
I
2010
Tahfidz 1 Juz dan Tilawah Prov Jateng
II
2010
STQ Pelajar Kebumen
I
2010
Futsal SMAN 2 Kebumen
II
2011
MTQ Kemnas Kabupaten
I
2011
MTQ MA PK Surakarta
I
2011
Lomba baca Puisi SMP/MTs Kabupaten
I
2011
Lomba baca Puisi SMP/MTs Kabupaten
II
2011
Lomba baca Puisi SMP/MTs Kabupaten
III
2011
Lomba Busana Muslim Kemnas Kab. Kebumen
II
2011
Lari 100 m Kemnas Kab. Kebumen
I
2011
Lomba Jelajah Medan Pramuka SMP/MTs Kab. Kebumen
III
2011
Cergam Tk SLTP/MTs se Kab. Kebumen
I
2012
Lomba MTQ SMP/MTs se Prop. Jawa Tengah – DIY di MA PK Surakarta
III
2012
Lomba Kaligrafi SMP/MTs se Prop. Jawa Tengah – DIY di MA PK Surakarta
II
2012
Lomba Cipta dan Baca Puisi Lalu lintas SMP/MTs se Kab. Kebumen
I
2012
Lomba MTQ SMP/MTs se Kab. Kebumen di SMK Ma’arif 1 Kebumen
I
2012
Lomba MTQ SMP/MTs se Kab. Kebumen di SMK Ma’arif 1 Kebumen
II
2012
Lomba Membaca Pembukaan UUD 45 Putra dalam rangka HUT RI Kab. Kebumen
I
2012
Lomba Membaca Pembukaan UUD 45 Putri dalam rangka HUT RI Kab. Kebumen
I
2012
Lomba Geguritan MAN  Kebumen 1
I
2012
Lomba Kaligrafi MAN  Kebumen 1
II
2012
Lomba Kaligrafi MAN  Kebumen 1
III
2012
Lomba Cerita Bergambar MAN Kebumen 1
III
2012
Lomba Cerita Bergambar SMAN Kutowinangun Kebumen
I
2012
Lomba Geguritan SMAN Kutowinangun Kebumen
I
2013
Lomba Nasyid Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta
III
2013
Kejuaraan Palang Merah Remaja Tingkat Kabupaten
I
2013
Lomba Gerak Jalan (LBB) SMAN 1 Kebumen
II
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...