Fenomena Belajar Instan
Terlepas dari pro-kontra aktivasi otak tengah, muncul
gejala belajar instant yang diminati orang tua. Bagaimana tidak menarik, hanya
dalam waktu 2 jam, anak mereka ”disulap” menjadi pintar, bahkan jenius. Uang 3.5
juta bukan masalah agar anak mereka cepat pintar.
Selain itu, orang tua hanya memahami bahwa tujuan
belajar adalah agar anak mereka menjadi pintar, genius, dan berprestasi. Padahal,
semua itu merupakan efek dari belajar, bukan tujuan belajar. Apalagi IQ sebagai indikator kejeniusan seseorang
sudah tidak berlaku lagi. Banyak orang yang berhasil dalam hidup tetapi IQ
mereka termasuk dalam kategori rata-rata. Banyak orang yang dianggap pintar
namun gagal dalam kehidupan. Tujuan belajar adalah agar anak dapat berkembang
sesuai dengan potensi yang mereka miliki sehingga ketika dewasa mereka dapat
menjadi pribadi mandiri baik sebagai makkluk pribadi maupun sosial.
Oleh karena itu, belajar juga harus berinteraksi
dengan lingkungan agar anak-anak mampu menjadi makhluk sosial yang baik. Interaksi
tersebut melibatkan bagaimana, siapa dan dengan apa seorang anak belajar. Dalam
interaksi tersebut anak-anak belajar memahami nilai-nilai
kehidupan.
Para orang tua juga harus menyadari,
bahwa metode terbaik belajar adalah bagaimana menciptakan suatu lingkungan
pembelajaran yang baik serta pendampingan yang baik. Kompleksnya proses belajar
hanya menyisakan kesimpulan bahwa pembelajaran adalah suatu kegiatan yang
bersifat kontinu dan konsisten. Proses ini harus dilalui oleh setiap orang
tanpa kecuali. Tidak ada jalan pintas untuk pintar. Tidak ada cara cepat
menjeniuskan otak.
Suyitman


No comments:
Post a Comment